Selasa, 06 Maret 2018

Taylor Swift, Budaya Mencatat Bangsa Jepang dan Video Keren Tarakanita

Oleh : Bebe Haryanto
Pengelola blog ESemA
Email : indolocavore (at) gmail.com
















“Hi Indonesia,
kamu sudah bisa mendapatkan album Speak Now
mulai minggu ini dari kota Jakarta dahulu, terima kasih.”

Status diatas terpajang di akun Facebook penyanyi dan pencipta lagu terkenal di dunia, 1 November 2010. Tanggal 4 Juni 2014, dia hadir berkonser di Jakarta. Dan baru saja untuk dua tahun berturut-turut majalah insdustri musik bergengsi Billboard menobatkannya sebagai penyanyi terbaik tahun ini.

Dia adalah Taylor Swift.

Dara imut kelahiran 13 Desember 1989 dengan tinggi badan 178 cm ini sudah menulis lagu sejak berumur 12 tahun. Dia menyebutkan, musiknya tidak lain merupakan buku harian dari hidupnya. Namun menurutnya, “mencipta lagu itu tidak dapat dipaksakan.” Seperti pernah ia katakan bahwa dirinya semata menunggu ilham datang dan segera menangkapnya.

Salah satu sarana terpenting dalam proses penciptaan lagu-lagunya yang hit dan mendunia itu adalah bloknot dan bolpoin yang selalu menemaninya kemana pun pergi.  Keep a notebook and pen handy, however, to capture any brainstorms that hit while you’re out and about,” tutur Taylor Swift. 

Tradisi Jepang. Kebiasaan baik ini ternyata juga dilakukan oleh orang Jepang. Cerita menarik ini yang membagikannya adalah Harry Davis, pengajar MBA di Sekolah Bisnis Harvard. Kata Pak Davis, turis Jepang keliling dunia, catat ini dan catat itu, lalu datanya dihimpun, dianalisis, jadilah produk Jepang membanjiri dunia. Selain itu, hal penting disebalik kegiatan catat-mencatat tersebut yang nampaknya belum banyak diajarkan di sekolah kita, yaitu pembelajaran untuk mengamati.

Kebiasaan itu tidak hanya berlaku untuk wisatawan. Tetapi juga lajim berlangsung di dunia akademis. Seorang warga Indonesia yang pernah belajar dan mengajar di Jepang, Hasanudin Abdurakhman, dalam bukunya Melawan Miskin Pikiran : Memenangkan Pertarungan Hidup Ala Kang Hasan (2016) menceritakan : 

"Masa-masa awal studi saya di Jepang dulu kebanyakan saya habiskan dengan mempelajari cara mengoperasikan alat-alat eksperimen. Bidang ilmu saya Fisika, khususnya saya belajar Fisika Bahan. Banyak eksperimen yang harus saya lakukan untuk menyelesaikan studi S2 dan S3.

Waktu belajar di jenjang S1 di Indonesia saya nyaris tidak bersentuhan dengan peralatan eksperimen, kecuali waktu praktikum. Karenanya banyak alat eksperimen yang belum saya kenal.

Saat saya belajar menggunakan alat, saya dibimbing oleh mahasiswa senior. Bersama saya ada beberapa mahasiswa seangkatan, yang baru saja bergabung pada grup riset tempat saya belajar. Saat diajari saya menyimak dan mempraktikan cara-cara mengoperasikan alat.

Sebagian besar saya ingat dan hafal di luar kepala, sedangkan hal-hal detil yang tidak mungkin saya ingat seperti angka-angka parameter, saya catat. Saya perhatikan para mahasiswa Jepang tadi sangat berbeda dengan saya. Mereka mencatat semua instruksi yang diberikan, langkah demi langkah. Beberapa bahkan membuat gambar.

Di masa-masa berikutnya saya perhatikan, mencatat adalah kebiasaan orang Jepang. Dalam setiap pertemuan mereka selalu siap dengan buku catatan dan pulpen. Demikian pula saat mengerjakan sesuatu.

Seorang associate professor yang merupakan teman dekat saya malah membuat semacam log book ketika melakukan eksperimen. Di log book itu dia mencatat setiap kejadian maupun hasil eksperimen, seperti grafik data yang tampil di layar monitor.

Ada pengalaman yang lebih menarik soal catat mencatat ini. Saat saya bekerja sebagai Visiting Associate Professor di Tohoku University yang juga almamater saya, salah satu eksperimen saya adalah memberikan doping yodium pada molekul DNA yang saya teliti. Ketika itu saya belum tahu cara melakukannya dan sedang mencari-cari literatur yang menjelaskan soal itu.

Saat itu profesor pembimbing saya teringat bahwa waktu dia studi di tingkat master dia pernah melakukan doping yodium atas sampel tertentu. Lalu dia pergi ke ruangannya dan kembali dengan sebuah buku catatan tua. Itu adalah buku catatan yang dia buat saat kuliah di tingkat master dulu. Artinya catatan itu sudah dia simpan hampir 30 tahun, berisi berbagai kegiatan eksperimen dia, termasuk tentang metode doping yodium tadi.

Luar biasa.

Kini saat saya bekerja di perusahaan, saya menyaksikan hal yang sama. Setiap orang Jepang selalu membekali diri dengan buku catatan. Setiap ada tamu, meski tidak ada agenda membahas persoalan tertentu mereka selalu datang ke ruang pertemuan dengan membawa catatan."

Tidak sekadar video. Umpama saja keteladanan Taylor Swift dan para akademisi dan turis Jepang itu sudah menulari para pelajar kita, semua fihak akan memperoleh manfaat.  Sekadar contoh adalah pengalaman hebat dari para siswi  sekolah homogen cewek, SMA Tarakinita 1 Jakarta, di tahun 2017. Terdapat 10 siswi yang memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan globalnya dengan ikut program homestay selama 10 hari di Jepang.
 
Sebagaimana diwartakan oleh situs Hai, program  ini bisa terjadi berkat kerja sama antara  Yayasan Tarakanita Indonesia dan Yayasan Suruga Jepang yang sama-sama punya misi meningkatkan kualitas pendidikan di kedua negara. 

 "SMA Tarakanita 1 Pulo Raya memberi kesempatan bagi 10 pelajar putri terbaik untuk dapat meraih Program Home Stay yang diadakan oleh Yayasan Suruga Jepang, mengikuti pendidikan di Sekolah Harima Hyogo, Jepang selama 10 hari, " jelas Suster Kepala Sekolah SMA Tarakanita 1 Pulo Raya, Sr. Pauletta, CB, M.Pd., pada Minggu (2/4) lalu seperti dilaporkan Tribun News.

Sepuluh duta pelajar dan bangsa Indonesia ke Jepang, 2017.









Untuk bisa mengikuti program ini, para siswi mesti mengikuti seleksi yang cukup ketat. Dari total 79 pendaftar di tahap seleksi administrasi, hanya 39 siswi yang terpilih. Lalu setelah tahap interview, tersaring lah 25 siswi. Dan di tahap karantina ini, dari 25 finalis terpilihlah 10 siswi yang diberangkatkan. Mereka adalah :

1. Ardela Michellina Prabowo (kelas X)
      2. Eugenia Putri Ayuningtyas (kelas X)
      3. Andini Yuvita Putri (kelas X)
      4. Maria Ba’u Hasiholan (kelas XI)
      5. Kresensia Chilia Ika Bulan (kelas XI)
      6. Liony Maria Datu (kelas XI)
      7. Diva Ananti (kelas XI      
      8. Natasha Davina (kelas XI)      
      9. Rania Ameera Moeljono (kelas XI)
     10. Mulia Setyowati (kelas XI)

Salah satu dari ke-sepuluh dara-dara cantik dan cerdas sarat prestasi  itu adalah  Rania Ameera Moeljono yang kemudian mengunggah video yang segar dan dinamis, berupa mosaik kegiatan mereka selama di Jepang. Silakan klik disini.  Adegan yang saya sukai adalah potongan adegan saat dari mereka sedang belajar bela diri a la Jepang.

Saya berandai-andai : apabila ke-sepuluh mereka sebelum berangkat memperoleh pesan atau bekal untuk membuat catatan aktivitas mereka, tentu akan mewariskan banyak catatan mengenai hal-hal positif selama mereka tinggal di negara maju tersebut. Syukur-syukur bila mereka adalah redaksi majalah sekolah Starpura, sehingga keterampilannya dalam menulis sudah memiliki dasar cukup.

Karena, hemat saya, bila saja catatan Ardela Michellina Prabowo dan kawan-kawan selama di Negeri Sakura itu digubah dalam bentuk cerita, besar kemungkinan himpunan itu dapat  diterbitkan sebagai buku yang menarik. Lebih menarik lagi bila digabungkan dengan karya para murid Sekolah Harima Hyogo Jepang yang juga melakukan program serupa di Indonesia.

Semoga usul-usil ini bermanfaat. Dan sebenarnya tidak ada kata terlambat untuk mewujudkan hal di atas.  Apakah  ke-sepuluh duta istimewa bangsa Indonesia asal sekolah Puloraya itu memiliki pendapat atas tantangan positif ini ?

Minggu, 04 Maret 2018

Elek Yo Band Sampai Ekskul Musik : Asyik !

Oleh : Bebe Haryanto
Pengelola blog ESemA
Email : indolocavore (at) gmail.com


“Namaku Bento rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku boss eksekutif
Tokoh papan atas atas segalanya
Asyik

Maling kelas teri bandit kelas coro
Itu kantong sampah
Siapa yang mau berguru datang padaku
Sebut tiga kali namaku Bento Bento Bento
Asyik”

Lagu “Bento” dari Iwan Fals ini menjadi penutup yang sempurna ketika grup musik istimewa Elek Yo Band ini tampil dalam perhelatan musik BNI Java Jazz 2018 di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (2/3/2018). Kata “Asyik” bergemuruh ikut dinyanyikan oleh semua pengunjung dengan bergembira. 

Anda tahu siapa saja personil grup musik biang heboh saat ini tersebut  ?

Pemain Musik Istimewa. Menkeu Sri Mulyani (kiri), Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki (kedua kiri), Menaker Hanif Dhakiri (kedua kanan), dan Menlu Retno Marsudi beraksi bersama Elek Yo Band dalam Java Jazz Festival 2018 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 2 Maret 2018.
Band ini membawakan lagu berjudul Dia, Juwita Malam, Ku Tak Bisa dan Bento. ANTARA, Sumber foto : Tempo.co

Di acara tersebut seperti dilansir Detik.com Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki memperkenalkan para personil Elek Yo Band. Meskipun hampir semua penonton sudah mengenal mereka. "Pertama,  Ibu Retno pekerjaan sampingannya Menteri Luar Negeri. Kedua, Ibu Sri Mulyani yang mundur dari World Bank untuk gabung dalam Elek Yo Band,  pekerjaan sampingan Menteri Keuangan. Ketiga,  Hanif pekerjaan sampingan Menaker. Lalu Pak Budi Menteri Perhubungan, Pak Triawan Kepala Bekraf, Pak Agus Marsudi suami Ibu Retno. Terakhir ini tukang gali tol Pak Basuki," tuturnya disambut tawa para penonton.

Beberapa saat lalu Presiden Joko Widodo yang dikenal menyukai grup metal Metallica, memberikan pendapat tentang para menterinya yang bermain musik itu. Katanya, "Saya mengapresiasi Elek Yo Band, jelek ya biar. Saya kira itu juga menunjukkan kekompakan kita semua dalam bekerja," kata Jokowi saat membuka rapat kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 3 Januari 2018.

Ekskul musik. Kekompakan merupakan salah satu tuntutan, hikmah  sekaligus keterampilan sosial yang hadir dan terasah bila kita bermain musik.  Tanpa kerja tim yang baik maka pagelaran musik sehebat apa pun individu pemainnya, akan menjadi suguhan  seni yang rusak dan tidak menarik. Merujuk hal positif itu, di pelbagai sekolah menengah atas di manca negara menganjurkan muridnya yang berbakat untuk menerjuni kegiatan bermusik-ria sebagai pilihan ekskulnya.

Situs Varsity Tutors menegaskan bahwa belajar dan bermain musik memungkinkan siswa berkesempatan mempelajari keterampilan baru. Belajar bermain musik adalah tantangan yang memungkinkan siswa melatih otak mereka dengan cara baru. Sementara beberapa orang mungkin merasa aktivitas itu sebagai beban lain untuk dipelajari di antara beban pekerjaan rumah yang sudah membuat siswa sibuk, bermain musik sebenarnya menjadi sarana bantu menenangkan otak,  memberi siswa untuk beristirahat secara rutin dari pekerjaan sekolahnya, tetapi sekaligus  tetap menjaga pikirannya tetap bekerja.

Banyak orang menemukan pembelajaran, bermain, dan mendengarkan musik  untuk menjadi terapi. Sehingga keterlibatan mereka bermusik-ria  yang secara teratur  itu dapat memberi siswa kestabilitan emosional yang hebat pula. Mereka dapat memilih yang disukainya, dari bermain orkestra, paduan suara atau pun marching band sekolah mereka.

Mampu Atur Prioritas. Seringkali pada awalnya siswa dihantui ketakutan kegiatan ekstrakurikuler yang memakan waktu itu akan menambah beban kerja mereka dan meningkatkan tingkat stres. Namun hasilnya  justru sebaliknya. Kenyataannya, sebagian besar siswa akhirnya mampu belajar  memilih prioritas  secara lebih baik ketika mereka memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang sangat menuntut dalam jadwal hidup mereka.

Agar berhasil ekstrakurikulernya dalam bermain musik, disarankan agar siswa  benar-benar meluangkan waktu untuk menyelidiki dan membuat keputusan akhir tentang instrumen apa yang akan Anda mainkan.  Karena dirinya diharapkan menginvestasikan waktu secara serius dalam proses pembelajarannya. Jika dirinya cocok dan beruntung, hal itu bisa menjadi gairah baru bagi yang bersangkutan.

Kemungkinan kuat munculnya gairah baru tersebut merupakan alasan lain untuk mempertimbangkan musik sebagai ekstrakurikuler. Selain menjalankan aktivitas secara keseluruhan, siswa tersebut akan menemukan tanggung jawab individu baru yang dapat meningkatkan keterlibatannya secara signifikan dan memberinya hobi pribadi untuk dinikmati. Siswa yang berinvestasi dalam ide semacam itu biasanya akan lebih terdorong untuk mewujudkan pemikiran kreatifnya dan sikap kritisnya di sekolah setiap harinya dan  menerapkannya lebih sering ke kelas mereka.

Jangan pernah meremehkan kekuatan memiliki sesuatu yang mampu menjadi pemicu  semangat dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi pengalaman siswa dalam sehari-harinya secara positif, yang dalam hal ini pengalaman pendidikan. Bergabung dengan ansambel musik akan menciptakan zona nyaman bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas mereka dan membiarkannya berkembang di tengah-tengah rekan mereka memiliki tujuan yang persis sama.

Gairah Cinta Terus Menyala. Seperti ditunjukkan dalam grup musik Elek Yo Band yang beranggotakan menteri dan pejabat dari beragam kementerian dan lembaga negara, maka acara bermusik seperti latihan ekstra sampai saat pentas,  akan memberikan kepada siswa insentif kegairahan yang terus menyala. 

Hal positif ini akan terus terjaga sehingga saat mereka lulus para  siswa itu akan memiliki banyak alasan untuk tetap cerah dan tertarik kepada dunia akademis mereka.  

Bahkan berinteraksi sebagai anggota tim yang memainkan musik dalam kegiatan ekstrakurikuler di masa sekolah, manfaatnya sampai mengalir lestari saat belasan tahun ketika mereka sudah tidak menjadi siswa lagi. Misalnya seperti ditunjukkan oleh Korps Putri Tarakanita, yaitu kelompok marching band sekolah homogen SMA Tarakanita 1 Jakarta. 

Tercatat betapa para alumninya sampai membentuk organisasi yang bernama puitis, Iliora, yang terus lestari, terus berkreasi yang bermanfaat bagi masyarakat seperti mendonorkan darah, sekaligus  menjaga keakraban yang bisa disebut kental, fanatik dan penuh cinta antarmereka.

Jadi bisa disimpulkan : Elek Yo Band, Marching Band, Ekskul Musik ?

Asyiiik !

Selasa, 27 Februari 2018

NoRiYu, Penentangan Sang Ibu, Starpura dan Suksesnya Sebagai Psikiater dan Penulis

Oleh : Bebe Haryanto
Pengelola blog ESemA
Email : indolocavore (at) gmail.com



Nova Riyanti Yusuf
Hot dan Harvard. Itulah dua kata yang ikut muncul di antara kata-kata lainnya yang mengiringi nama ketika saya memasukkan nama “nova riyanti yusuf” dalam mesin pencari Google saat ini.

Untuk kata “hot,” silakan Anda buktikan sendiri. Sementara paparan lanjut dari kata “harvard” itu bisa membuat alumnus sekolah homogen SMA Tarakanita 1 Jakarta berbangga, demikian juga seluruh bangsa Indonesia. Karena si empunya nama tersebut pada 1 April 2015 didaulat menjadi pembicara dalam seminar Women, Politics, and Mental Health Law in Indonesia di Harvard Kennedy School, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

Nova RiyantiYusuf, kelahiran Palu, 27 November 1977, adalah seorang psikiater Indonesia, penulis terkenal, dan politisi muda perempuan. Majalah Her World Indonesia menamainya "Perempuan Paling Kuat 2014." Pada bulan Desember 2009, dia menduduki peringkat ke-3 pilihan majalah Globe Asia sebagai "Wakil Rakyat Paling Berpengaruh.” 

Dia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI yang bertanggung jawab untuk kesehatan, ketenagakerjaan, dan urusan kependudukan. Pada tahun 2015 tersebut dirinya menjadi ilmuwan tamu di Departemen Kesehatan Global dan Pengobatan Sosial, Harvard Medical School.

Ditentang Sang Ibu. Kariernya yang cemerlang itu merupakan hasil kompromi antara cita-cita NoRiYu, panggilan populernya, untuk menjadi penulis, sementara sang ibu menentangnya. Dia menulis di Selasar, “awal kegelisahan saya dengan zaman Orde Baru adalah pada saat saya mempunyai minat menulis yang begitu besar dan bersiap mendaftar ke Stanford University, kemudian ibu saya mencegah karena kamu akan sulit hidup." 

Lanjut NoRiYu, “Ada dua hal yang saya pelajari dari larangan keras tersebut. Ibu saya tidak pernah memproyeksikan bahwa saya akan hidup sebagai perempuan yang bergantung secara finansial kepada laki-laki. Secara tidak langsung, ibu menyiratkan bahwa menjadi penulis di zaman Orde Baru akan erat dengan "susah income". 

Karena kebebasan ekspresi tidak ada semasa SMP, Noriyu menuliskan cerpen dalam bahasa Inggris dengan pensil, kemudian dibantu teman menuliskan dengan lebih rapi disertai ilustrasi-ilustrasinya, dan beberapa lembar kertas tersebut menjadi asupan teman secara terbatas.

“Isi cerita saya sudah nyeleneh,” ungkapnya,  “makin tidak mungkin lagi bisa berkembang dalam era Orde Baru. 

Kemudian semasa SMA, 1992-1995, NoRiYu aktif menjadi editor majalah sekolahnya, SMA Tarakanita 1 Jakarta, Starpura (Suara Tarakanita Pulo Raya), dan disebutnya dirinya memasuki fase "mungkin depresi" karena walau pun dirinya memilih jurusan A1 (Fisika) dia kekeuh ingin kuliah Creative Writing di Stanford. 

Jalan hidup. Kearifan akhirnya menuntun dirinya. “Karena tidak mau membuat ibu saya sedih, saya pun memilih sekolah Fakultas Kedokteran (Universitas Trisakti) last minute saja. Bahkan sempat menantang diri, kalau semester satu saya jeblok, ya, artinya memang bukan ini jalan hidup saya. Ternyata, jalan hidup saya memang menghantarkan saya menjadi dokter dan spesialis kedokteran jiwa.”

Semasa kuliah NoriYu mendirikan media komunikasi KOMET (Komunikasi Medikal Trisakti) dan sempat menjadi Pemimpin Redaksinya.

Sekarang NoRiYu bertugas sebagai dokter jiwa (psikiater) yang bertugas di RS Jiwa dr. Soeharto Heerdjan (Grogol-Jakarta). 

NoRiYu telah menerbitkan 12 karya berupa novel, antara lain Mahadewa Mahadewi  yang pada tahun 2003 terbit secara independen yang kemudian hak penerbitan diambil alih oleh Gramedia Pustaka Utama.  

NoriYu juga menulis skenario film layar lebar, sampai kumpulan esai yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan Gagas Media. NoRiYu diprofilkan dalam koran The New York Times (AS) pada rubrik The Saturday Profile tanggal 22 Oktober 2016.

Siapakah kalian yang ingin menjejaki atau meneladani pilihan karier ganda yang cemerlang seperti dirinya ?

Daftar alumnus SMA Tarakanita 1 yang pernah berkecimpung dalam pengelolaan majalah sekolah Starpura : ArumiZanira | Belinda Heimbach | DeyaOktarissa | Endang Setiowati Hoetomo | Gladys Samosir | Klara Maria Dara Caturningsih | Nataya Kusuma | Yosephine Dwi Eka Iksam |