Tampilkan postingan dengan label keterampilan menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keterampilan menulis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Maret 2018

Menanti Virus Rianita, Yohana dan Zakaria Mengamuk Di Sekolah-sekolah Kita

Oleh : Bebe Haryanto
Pengelola blog ESemA
Email : indolocavore (at) gmail.com

“Sayangnya, aku nyaris tidak punya hal yang tidak kupertanyakan.”
“Bagus. Bakat yang baik untuk jadi seorang wartawan.”

Itu adalah sepenggal quote yang dituliskan oleh Lucia Priandarini di bukunya yang berjudul Episode Hujan. Petikan tersebut mendeskripsikan salah satu ciri seorang wartawan handal, yaitu kritis dan selalu ingin tahu.

Peserta Magangers Kompas Muda IX-2017 di kantor Harian Kompas Jakarta. Wawasan dan praktek jurnalistik yang mereka terjuni antara lain diharapkan ikut membentuk mereka sebagai warga negara yang bijak dan cerdas dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi.  Foto : Kompas Muda.


Menohok. Mata pancing perhatian dari teras berita atau lead diatas sepertinya berhasil mengait dan mengikat pembaca ketika ditebarkan oleh penulisnya, Angelina Yohana, pada awal tulisannya. Dalam konteks dirinya sebagai pelajar SMA Tarakanita Gading Serpong yang saat menulis itu menjadi peserta magang  di harian ternama, Kompas, nampak roh dan wawasan  sebagai wartawan telah menyatu dalam dirinya.

Yohana, sungguh beruntung. Karena dalam waktu singkat mampu menimba dan memiliki wawasan penting tersebut. Demikian juga 36 teman lainnya yang tergabung dalam satuan yang diberi nama populer Magangers Batch IX Kompas Muda 2017.  Mereka berkesempatan magang di koran nasional ternama tersebut pada  bidang reporter, fotografer dan desainer grafis pada 10-15 Juli 2017.

Daftar peserta yang digembleng sebagai reporter meliputi : 1. Ahmad Rizky, SMAN 23 Tangerang, 2. Aisyah Salsabilla, Binus International School Serpong, 3. Aulia Chanifa Haryadiputri, SMAN 55 Jakarta, 4. Aunal Adha Sulistiari, SMA Kornita-IPB Bogor, 5. Benediktus Tandya Pinasthika, SMA Kolese Kanisius Jakarta, 6. Chiara Farahangiz Samandari, SMA Athalia Tangerang, 7. Faizah Diena Hanifa, SMA Negeri 2 Cibinong, 8. Fauzianie Mawar Pasyha, SMAN 16 Jakarta,  9. Gregorius Amadeo, SMA Regina Pacis Bogor, 10.  Ignacia Claresta, SMA 3 PSKD Jakarta,

11. Indira Maretta Hulu, SMAK 7 BPK Penabur Jakarta, 12. Muhammad Ari Kusumah, SMK Negeri 9 Tangerang, 13. M Bagus Al Rafi, SMA Nasional I Bekasi, 14.  Muhammad Rafi Kamil, SMAN 1 Depok, 15. Nabillah Nurul Fikriyyah, MA Ummul Quro Bogor, 16. Ramzy Erzano, SMAN 34 Jakarta Selatan, 17. Rianita Gunawan, SMA Santa Ursula Jakarta, 18. Wulan Yuniarti, SMAN 2 Jakarta, 19. Vira Kristianingrum, SMAN 88 Jakarta, 20. Yohana, SMA Tarakanita Gading Serpong Tangerang

Fotografer : 1. Alam Afrizal, SMAN 4 Depok, 2. Andrew Aditya Kusuma, Sekolah Bogor Raya, 3. DellaRagil Putri, SMAK Santo Paulus Jember, 4. Fidelis Ilham Cesardianto, SMA Pangudi Luhur II Jakarta, 5. Hafizh Daffa AS, SMKN 06 Tangerang, 6. Gregorius Bernardino Saragih, SMA Kolese Gonzaga Jakarta, 7. Josephine Angeline, SMA Kristen Ketapang 3 Jakarta, 8. Matthew Trayen, SMAK Penabur Gading Serpong Tangerang

Desainer Grafis : 1. Aji Nurhidayat, SMK Bhakti Anindya Tangerang, 2. Amadea Marie Kristi, SMA Santa Ursula BSD Tangerang, 3. Fuad Fauzi, SMKN 6 Jakarta, 4. Gracello Yeshua Davny Bonar, SMAN 98 Jakarta, 5. Jeremy Mahaputra Duta Pamungkas, SMA Ora et Labora BSD Serpong Tangerang. 6. Kevin Muhammad Atilla Aryabima, SMAN 1 Kota Bekasi. 7. Shanazia Sekar Asri, SMA Negeri 81 Jakarta, 8. Syskia Anelis, SMAN 8 Jakarta.

Sebagaimana dikisahkan oleh  oleh Indira Maretta Hulu dari SMAK 7 Penabur Jakarta, salah satu magangers seperti  mereka, bahwa terdapat  “sekitar 400 siswa yang mengirimkan karya mereka, tapi hanya terdapat 37 siswa yang mendapatkan kesempatan langka tersebut. Mereka mendapatkan kesempatan untuk menjelajahi kantor dan mengenal tentang cara kerja Harian Kompas sebagai media informasi.”

Jangan Menjadi Bodoh. Sementara itu Muhammad Rafi Kamil dari Siswa SMAN 1 Depok melaporkan pada awal permagangan itu, setelah para peserta memainkan beberapa permainan menarik sebagai ice-breaker  dan team building agar sesama peserta terjalin keakraban mengingat saling asing satu dengan lainnya.

Kamil  menulis bahwa “sebagai awalan, para magangers diperkenalkan dengan Harian Kompas. Mulai dari pendiri Kompas, hingga prestasi-prestasi yang dicapai oleh penerusnya. Pada intinya, sejak didirikan, Kompas berusaha menularkan semangat keindonesiaan dan kemanusiaan bagi pembaca setianya di segala penjuru Nusantara.”

Ketika kemudian peserta magang memperoleh pembekalan mengenai dasar-dasar jurnalistik yang diberikan oleh jurnalis Kompas, Budi Suwarna, Muhammad Rafi Kamil mencatat tentang penekanan terhadap pentingnya data yang terpercaya dalam menulis berita.  Lanjutnya, ia mengutip  paparan  Hendra dari Litbang Kompas yang menyampaikan bahwa ditengah derasnya arus informasi, hoaks atau berita bohong bin palsu menjadi racun termudah dalam menutup kebenaran informasi yang ada.

“Beliau menegaskan bahwa, sebagai seorang jurnalis yang tulisannya akan dibaca oleh masyarakat luas, menulis sesuai fakta yang adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tak hanya dari sisi penulis, kita sebagai pembaca, harus memeriksa ulang kembali sumber-sumber dari data yang disuguhkan dalam sebuah tulisan.”

Isu aktual dari pembekalan mengenai sikap yang benar sebagai jurnalis dan sebagai warga negara di tengah banjirnya informasi dari Internet, utamanya media sosial, juga menjadi bahan catatan Rianita Gunawan dari SMA Santa Ursula Jakarta. Dia yang terpilih sebagai ketua kelas untuk kelompok magangers tahun 2017 yang bertajuk Renjana itu telah mengkristalkan panduan yang penting bagi kita semua : stop being dumb on the internet. Jangan menjadi dungu di Internet.

Peringatan yang sama agar kita tidak bodoh di Internet dan akibat fatalnya juga memperoleh garis bawah dalam tulisan peserta lainnya, Wulan Yuniarti dari  SMAN 2 Jakarta.  Dia katakan, media sosial sendiri bisa menjadi pedang bermata dua buat kita. Satu sisi bisa membunuh musuh dan di sisi lain juga bisa membunuh diri sendiri. “Sudah jelas kan, demi medsos karena terlalu fokus buat selfie, jadi deh lupa lingkungan sekitar yang berbahaya. Contohnya, adanya kasus ‘Selfie Membawa Maut.’”

Memiliki Mata Baru. Permagangan mereka, tentu saja,  tidak hanya berkutat masalah teori. Datanglah hari ketiga sebagaimana dicatat oleh Ignacia Claresta dari SMA 3 PSKD Jakarta, ketika tiba masanya mereka berpraktek dan belajar tentang bagaimana cara menjadi reporter, fotografer, dan desainer grafis.

Tulisnya : “Setelah ikut training, Magangers Muda mulai turun ke lapangan untuk menerapkan materi-materi yang sudah diberikan. Ada beberapa destinasi yang akan dikunjungi oleh tiap kelompok, antara lain Stasiun Palmerah, Pasar Palmerah, Kuburan Belanda, Museum Tekstil, Perempatan Slipi, Pasar Bunga Rawabelong, Pasar Pisang, dan Kuliner Binus.”

Obyek atau destinasi di atas yang sehari-harinya nampak  terlalu biasa dan mungkin tidak menarik perhatian, kemudian bisa berubah. Utamanya setelah mereka memperoleh pembekalan wawasan jurnalistik, membuat  mereka seolah memiliki mata dan wawasan baru. Dengan wawasan itu pula kemudian banyak mereka temukan hal-ihwal aktivitas manusia yang bernilai untuk diangkat sebagai berita, sebagai cerita.


Apa Sesudah Pasca Magang ? Keterampilan menulis, memindahkan pikiran ke dalam bahasa, seringkali hanya dikaitkan dengan beberapa profesi tertentu saja. Wartawan, penyair dan sastrawan. Juga dosen. Para magangers telah menerjuni kiprah tersebut dengan menjadi jurnalis muda. Menulis untuk keperluan menulis berita.

Yang patut ditunggu adalah : apa yang bakal mereka lakukan sesudah praktek magang tersebut usai ? Apakah mereka tergerak untuk memupuk terus kebiasaan menulis untuk meningkatkan kapasitas intelektualnya ? Apakah mereka mengelola blog pribadi untuk hal tersebut ? Apakah fihak sekolah memberikan sesuatu apresiasi yang memadai kepada mereka ? 

Apakah ilmu, wawasan dan seluk-beluk praktek jurnalistik yang mereka serap dan lakukan itu bisa mereka tularkan kepada teman-teman sekolah mereka, misalnya untuk penerbitan yang lebih baik bagi majalah sekolah atau bahkan bagi situs web sekolah mereka ?  Karena banyak situs dari sekolah ternama pun mangkrak, seadanya, bahkan memprihatinkan baik isi mau pun penampilan situs webnya. 

Apakah permagangan mereka itu mampu membukakan cakrawala pemahaman bahwa dalam dunia pendidikan yang akan mereka tempuh selanjutnya, dan juga ketika kelak menerjuni dunia pekerjaan, betapa  keterampilan menulis dibutuhkan oleh semua oranguntuk menunjang sukses karier dan kehidupannya ? Termasuk menulis sebagai wujud peranserta dirinya sebagai warga negara ? Sadarkah mereka bahwa keterampilan menulis merupakan bagian dari keterampilan berkomunikasi,  di mana praktek komunikasi yang baik dibutuhkan dalam sepanjang usia yang bersangkutan ?

Sayangnya, keterampilan menulis nampak bukan sebagai hal yang dianggap penting dalam dunia pendidikan kita. Contoh aktual : di pelbagai sekolah menengah atas, di Jakarta  pun, pada sekolah yang kita kenal sebagai sekolah ternama pun, tidak banyak dari sekolah itu yang mampu mengelola penerbitan berisikan karya-karya anak didik mereka.

Sekadar contoh, bila kita menelusur di Internet untuk mencoba mengetahui apa saja kegiatan ekstrakurikuler, misalnya di SMA Tarakanita 1, SMA Tarakanita 2, SMA Santa Ursula, SMA Santa Theresia, SMA Negeri 3 Jakarta, tidak tercantum kegiatan menulis sebagai salah satu mata kegiatan ekskulnya. Hanya di SMA Regina Pacis Jakarta yang mencantumkan kegiatan ektrakurikuler jurnalistik.

Harapan saya : semoga mereka yang telah menjalani permagangan itu bisa menebarkan virus pentingnya membaca dan menulis di lingkungan sekolahnya. Karena di dunia yang sarat perubahan dewasa ini, agar seseorang mampu terus survive maka setiap orang dituntut untuk terus belajar seumur hidup. Salah satu cara belajar yang terbaik adalah dengan membaca dan menulis.

Seorang jurnalis terkenal, Fareed Zakaria, yang kita kenal sebagai host acara bergengsi “Fareed Zakaria’s GPS” di CNN  dan editor majalah Time, dalam bukunya In Defense of Liberal Education  (2015) telah menegaskan : “Manfaat utama pendidikan liberal adalah pengajaran mengenai bagaimana menulis, karena menulis membuat Anda mampu berpikir.”

Merujuk pendapat yang dikutip Yohana di awal artikel mengenai pentingnya selalu bertanya, maka kita kini bisa bertanya : mampukah dunia pendidikan kita mendengar pendapat hebat dari Fareed Zakaria ?

Sabtu, 10 April 2010

Merangsang Aktivitas Baca-Tulis Siswa melalui Mading Sekolah


Oleh : Sabjan Badio & Siska Yuniati

Majalah dinding atau mading merupakan media komunikasi yang telah dikenal lama oleh masyarakat. Mading tidak hanya dibuat oleh siswa di sekolah, namun juga diciptakan dan dikonsumsi oleh masyarakat umum.

Saat mendengar kata mading, sesuai kepanjangannya, majalah dinding, tentu saja yang terbayang dalam benak kita adalah majalah yang terpasang di dinding. Anggapan itu tidak keliru karena prinsip dasar yang ada pada mading layaknya pada majalah. Penyajiannya menggunakan media papan (tripleks, karton, gabus, atau bahan lain) yang dipampang pada dinding. 

Rubrik-rubrik mading sama dengan rubrik-rubrik majalah. Tata letak mading juga tidak jauh berbeda dengan majalah pada umumnya, hanya saja dalam mading lebih sederhana, semua rubrik ditempatkan pada satu halaman atau muka saja.


















Materi mading itu sendiri, menyesuaikan tempat mading itu berada. Mading yang ditempatkan di sekolah tingkat SMP/MTs dan SMU/MA berisi tulisan-tulisan yang disesuaikan dengan karakter sekolah-sekolah tersebut. Selain tulisan, mading juga dilengkapi gambar, misal karikatur atau gambar lain. Hanya saja, untuk tingkat tersebut tulisan tetap lebih dominan. Sementara itu, pada jenjang pendidikan yang lebih rendah, seperti SD dan TK, gambar lebih dominan daripada tulisan.

Ragam Tulisan Mading
Rubrik mading sekolah dapat beragam sesuai kreativitas pengelola dan kebutuhan pembaca atau warga sebuah sekolah. Rubrik yang dihadirkan untuk sekolah menengah (SMP-SMA dan MTs-MA) didominasi oleh tulisan jurnalisme, opini, dan sastra. Sisahnya adalah jatah rubrik yang berhubungan dengan kreativitas seni, misalnya fotografi dan album foto, komik pendek, karikatur, lukisan, ilustrasi, dan sebagainya.

Nursisto (2003: 29-38) mengungkapkan, tulisan yang lazim muncul dalam mading adalah spot news, feature, dan reportase. Reportase sebenarnya hanyalah proses dalam pengumpulan data. Jadi, pengelompokan tulisan yang mungkin dilakukan di mading adalah news, feature, opini, dan sastra. News adalah tulisan yang disajikan secara langsung dan apa adanya yang biasanya menjadi andalan surat kabar harian. 

News dibangun dengan sistem 5W + 1H (what, who, where, when, why, dan how). What mengupas apa yang terjadi, who berkenaan dengan pelaku peristiwa, where memuat tempat terjadi peristiwa yang diberitakan, when bersinggungan dengan waktu terjadi peristiwa, why menjawab masalah sebab terjadi peristiwa, dan how menghadirkan informasi tentang bagaimana kejadiannya. Pada majalah dinding, news biasanya hanya berupa tulisan pendek, bahkan kadangkala hanya ditampilkan dalam bentuk berita foto yang disertai caption (tulisan di bawah foto atau gambar yang berfungi sebagai keterangan).

Tulisan feature bisa dikatakan lebih ringan daripada berita (dan artikel opini). Namun, bukan berarti feature bisa dianggap enteng. Ciri khas feature adalah bagaimana penulis berkreativitas (dalam menulis), menyajikan tulisan yang informatif (isinya), dan menghibur (cara penyajian, bahasa, dan penuturannya). Tulisan jenis ini terbagi menjadi news feature, science feature, dan human interest feature. News feature muncul bersamaan dengan terjadinya peristiwa (tepatnya beberapa saat setelah peristiwa terjadi). 

Berita disajikan dengan disertai proses terjadinya. Science feature ditandai dengan kedalaman pembahasan dan objektivitas pandangan yang dikemukakan. Sementara itu, human interest feature adalah feature yang lebih banyak menuturkan situasi yang menimpa seesorang dengan cara penyajian yang menyentuh hati dan menyentil perasaan (Suroso, 2001: 94).

Baik news maupun feature, harus ditulis berdasarkan proses reportase. Proses reportase dilakukan melalui observasi, interview (wawancara), hingga riset (penelitian atau pengamatan intensif dan cermat baik secara langsung maupun dengan studi pustaka).

Jenis tulisan yang juga menjadi favorit mading dan surat kabar pada umumnya adalah artikel opini. Menurut Suroso (2001), artikel opini merupakan tulisan yang berisi gagasan, ulasan, atau kritik terhadap suatu persoalan yang ada dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yang ditulis dengan bahasa ilmiah populer. Atikel opini ini terbagi menjadi pengetahuan populer, penuntun praktis (guidance), politik, olahraga, dan kebudayaan. Data untuk penulisan artikel ini dapat diperoleh melalui wawancara, penelitian atau penyelidikan langsung, dan bahan cetakan.

Terdapat perbedaan mendasar antara tulisan feature (dan news) dengan artikel opini. Suroso (2001: 96-97) mengungkap bahwa artikel opini membuat orang berpikir dan isinya menyangkut analisis, pendapat, saran, yang penuh muatan sebab-musabab. Tulisan opini didorong oleh alasan-alasan ilmiah yang mengandung resiko polemik, baik yang bersifat mendukung maupun membantah. Hal ini berbeda dengan feature, feature lebih bersifat rileks, berpengaruh pada perasaan pembaca, membuat pembaca menjadi senang, terharu, bersemangat, bahkan menangis. Walaupun begitu, setiap media mempunyai gaya sendiri dalam menyampaikan tulisan-tulisannya.

Kemudian, jenis keempat yang kerap menghiasi wajah mading adalah jenis tulisan sastra, yaitu cerbung, cerpen, dan puisi. Namun, lazimnya, yang terpublikasi hanyalah cerpen dan puisi, sementara cerbung jarang ditampilkan berkenaan sulitnya mendapatkan tulisan yang bermutu dan layak untuk diterbitkan di mading.

Untuk menghadirkan semua jenis tulisan tersebut pengelola (redaktur tiap-tiap rubrik) harus memberitahukannya secara luas pada semua warga sekolah, misalnya melalui pemberitaan pada edisi sebelumnya, pada majalah-majalah biasanya tertulis: Tema Edisi Depan (Berikutnya). Melalui pemberitaan tersebut, para siswa, karyawan, dan guru memiliki informasi yang jelas dan waktu cukup untuk menulis sesuai minatnya. 

Dalam pengumpulan tulisan tersebut, pengelola harus membatasi waktu penyerahan tulisan dengan menyisahkan waktu untuk proses penenerbitan, mulai penyeleksian, editing atau penyuntingan, hingga layout atau perwajahan. Untuk itu, para redaktur harus memilih naskah terbaik secara objektif.

Manfaat Mading
Banyak manfaat yang diperoleh dari mading. Mading dapat dijadikan media komunikasi. Tulisan pada mading merupakan bentuk komunikasi antarpihak tertentu. Tulisan tersebut menghadirkan informasi atau peristiwa yang terjadi dalam lingkup tertentu pula. Sebagai contoh, mading di sekolah, tentu akan menuliskan berita berkenaan dengan kegiatan atau info sekolah, hal yang tidak akan didapatkan dari koran atau majalah pada umumnya. Pembaca mading yang merasa berkepentingan dengan berita tersebut barangkali tidak hanya sekadar membaca, namun juga merespons atau menanggapinya. Di sinilah akan terjadi komunikasi antara redaksi mading dengan pembaca, antara pembaca dengan pembaca lain.

Mading juga dapat dijadikan wadah untuk menampung kreativitas. Mading tidak hanya menampilkan tulisan dalam rubriknya, namun juga kreasi seni visual dan kerajinan. Kreativitas seni tidak hanya mengusung keindahan, akan tetapi juga mempertimbangkan segi ekonomis dan pemanfaatan benda-benda di sekitar. Demikian pula dengan tulisan dalam setiap rubriknya. Redaktur harus jeli memilih berita yang ada di lingkungannya kemudian mengolahnya menjadi berita yang menarik.

Dari mading, redaktur dan pembaca akan banyak belajar. Redaktur mading dalam mempersiapkan lahirnya mading dalam setiap edisinya tentu membutuhkan pengetahuan atau informasi yang tidak sedikit. Tentunya secara tidak langsung siswa ditugasi menulis salah satu tulisan akan banyak membaca. Bagaimana pun juga keterampilan menulis harus dibekali dengan pengetahuan yang luas. Sementara pembaca mading selain mendapatkan informasi dari mading, ia akan termotivasi untuk menggali pengetahuan lebih lanjut. Tulisan dalam mading sifatnya ringkas karena terbatas luasnya media. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut pembaca dapat mencarinya melalui media lain (surat kabar, internet, dsb).

Siswa atau orang-orang yang tergabung dalam redaksi mading akan belajar berorganisasi. Mereka belajar mengurus suatu penerbitan. Dalam menghadirkan sebuah mading perlu proses panjang, mulai dari pengumpulan bahan, penyuntingan hingga penyelesaian. Setiap redaktur mau tidak mau belajar bertanggung jawab menyelesaikan tugas yang diembannya. Tujuannya tidak lain agar mading selesai tepat waktu. Keterlambatan terbitnya mading akan berpengaruh terhadap isi berita yang ditulis. Berita sudah tidak aktual atau basi sehingga kehadiran mading berkurang fungsinya.

Mading dan Aktivitas Baca-Tulis
Dalam belajar bahasa Indonesia ada empat keterampilan yang harus dikuasai siswa. Keempat keterampilan tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kalau dipasangkan, maka menyimak atau mendengarkan akan berpasangan dengan berbicara, sedangkan membaca berpasangan dengan menulis. Pasangan keterampilan berbahasa tersebut saling mempengaruhi. Aktivitas berbicara dibarengi aktivitas menyimak. Keberhasilan menyimak akan berpengaruh terhadap keterampilan berbicara. Demikian pula dengan keterampilan menulis, keterampilan ini sangat erat hubungannya dengan keterampilan membaca. Menulis merupakan bentuk penuangan ide dari hasil membaca. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula informasi yang dapat disampaikan melalui tulisan.

Kurikulum KTSP mata pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTs untuk keterampilan membaca dan menulis menuntut siswa untuk dapat menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata per menit, menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca, membedakan antara fakta dan opini, menganalisis nilai-nilai kehidupan dalam cerpen, menulis kreatif puisi, mengubah teks wawancara menjadi narasi, menulis laporan dengan bahasa yang baik dan benar, menyunting karangan, menulis cerpen, serta menulis surat pembaca. Kompetensi dasar yang disyaratkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di atas tidak akan berhasil kalau hanya disampaikan selama 2 x 40 menit di dalam kelas. Materi-materi tersebut sebaiknya dipraktikkan dan terus dilatih agar menjadi keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupan anak didik.

Keberadaan mading sangat dekat dengan aktivitas baca-tulis. Sebelum diterbitkan, redaktur akan mengumpulkan naskah atau tulisan. Tulisan dapat berasal dari redakur sendiri maupun kontribusi pembaca. Dalam proses penyaringan naskah tersebut diharapkan ada kompetisi untuk menjadi yang terbaik hingga dipilih oleh redaktur rubrik untuk dimuat. Dalam proses kompetisi tersebut ada proses pembacaan dan pembelajaran menulis.

Para kontributor sebelum mengirimkan naskah setidaknya telah melalui tahapan-tahapan menulis. Tahapan-tahapan tersebut mengumpulkan bahan, menulis artikel, melakukan perbaikan (revising), menyunting (editing), pembacaan percobaan (proof reading), serta memublikasikan (mengirimkan tulisan). Dalam menyunting tulisan, hal yang harus diperhatikan adalah tanda baca, huruf kapital, ejaan, tata bahasa, dan keefektifan kalimat. 

Pada tahap pembacaan percobaan (proof reading) yang harus dilakukan adalah melakukan pembacaan percobaan, ini sebaiknya dilakukan oleh pihak lain yang tidak ikut menulis naskah tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah cara penyajian dapat diterima dan enak dibaca oleh pembaca, serta apakah materi-materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik (Yuniati, 2008: 39). Dalam pengiriman naskah, kontributor harus jeli mengamati materi rubrik yang akan dibidiknya. Para kontributor dapat belajar dari edisi-edisi sebelumnya. Hal ini dilakukan agar tulisan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan mading sehingga berpeluang untuk dimuat.

Kehadiran mading juga diharapkan mampu memotivasi siswa untuk membaca dan menulis. Asumsinya, siswa akan aktif membaca tulisan yang ada di mading karena yang menulis adalah temannya sendiri atau orang yang dikenal. Hal ini juga akan memberi dorongan siswa untuk menulis seperti yang telah dilakukan temannya. Selain itu, siswa lebih berani untuk mengirimkan tulisannya karena seleksi naskah tidak seketat surat kabar atau majalah yang dikonsumsi masyarakat luas.

Latihan menulis, mau tidak mau akan menguras energi yang tidak sedikit. Wajar saja karena disinyalir bahwa penentu keberhasilan dalam menulis adalah kerja keras. Bahkan, porsinya mencapai 90%. Kerja keras di sini dimaksudkan sebagai aktivitas latihan, ketekunan, dan keinginan untuk meningkatkan kualitas diri dengan selalu belajar. Belajar dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan non-formal seperti rutinitas membaca dan menulis.

Akhirnya, bagaimana pun juga aktivitas permadingan dan baca-tulis tidak terlepas dari peran aktif guru. Peran aktif para pendidik tersebut sangat diharapkan berupa motivasi dan teladan dalam membaca dan menulis. Jika para guru tidak mampu memberikan motivasi dan keteladan, berbagai upaya yang dilakukan tidak akan banyak berhasil. Hal yang paling krusial tentu adalah keteladanan, bagaimana para guru meneladankan rutinitas membaca dan kebiasaan menulis pada para siswa akan menentukan perkembangan baca-tulis siswa kemudian hari.

Aktivitas permadingan ini tentu perlu rangsangan lebih dengan mengadakan kegiatan-kegiatan perlombaan, baik tingkat sekolah maupun tingkatan yang lebih luas. Pada peristiwa seperti ini, para siswa dapat mengukur (untuk kemudian meningkatkan) kemampuannya dalam menulis dan mengelola mading. Pada lingkup internal mading sendiri, mungkin dapat dilakukan pemilihan artikel terbaik sepanjang tahun, foto terbaik, dan sebagainya.

Referensi 

Nursisto. 1999. Membina Majalah Dinding. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. 
Suroso. 2001. Menuju Pers Demokrasi. Yogyakarta: Lembaga Studi dan Inovasi Pendidikan. 
Yuniati, Siska. 2008. Menulis Resensi Buku. Yogyakarta: MTs Negeri Giriloyo.



Sumber :

https://mediaksara.wordpress.com/2010/04/04/merangsang-aktivitas-baca-tulis-melalui-mading-sekolah/ 

Biodata penulis :

Sabjan Badio adalah seorang penulis, editor, dan blogger. Beberapa karyanya mendapatkan penghargaan pada tingkat lokal dan nasional serta digunakan sebagai referensi di dalam dan luar negeri. Selain menulis, Sabjan Badio juga mengajar di sekolah dan perguruan tinggi.

Sabjan merupakan sosok yang terlibat dalam penyusunan media audio untuk tunanetra di Indonesia terkait Gerakan Literasi Sekolah yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Selain itu, Sabjan juga tercatat sebagai salah seorang penyusun kurikulum sekolah menengah kejuruan di Indonesia.

Tautan lanjut : https://id.wikipedia.org/wiki/Sabjan_Badio

Siska Yuniati adalah seorang penulis, penyunting,blogger berprestasi,guru bahasa, dan aparatur sipil di Kementerian Agama Republik Indonesia. Kelahiran Bantul, 26 Juni 1980. Dunia menulis mulai digelutinya sejak bangku sekolah di mana ketika itu dia menjadi ghost writer atau penulis bayangan untuk sebuah lomba menulis puisi. Aktivitas menulis ini terus ditekuninya ketika menapaki jenjang pendidikan tinggi di Universitas Negeri Yogyakarta.

Di universitas tersebut, Siska Yuniati mulai melirik media massa nasional. "Mesin Jahit Ibuku" (2004) adalah sebuah tulisan yang diterbitkannya di majalah wanita Ummi yang sekaligus menjadi pelecut baginya untuk terus menulis.

Dalam perjalanan karier menulisnya, Siska Yuniati menyadari pentingnya latihan menulis. Sebagai sebuah keterampilan, kemampuan menulis harus selalu diasah dan dikembangkan.Di antara tips untuk meningkatkan kemampuan menulis adalah dengan membiasakan diri menulis buku harian. Pandangannya tentang hal ini beberapa kali dikemukakan dalam artikel yang ditulisnya untuk media massa. Selain pembiasaan, hal lain yang menurut Siska penting dilakukan adalah riset. Sebuah riset berperan penting dan menentukan kualitas sebuah karya kreatif.

Tautan lanjut : https://id.wikipedia.org/wiki/Siska_Yuniati