Selasa, 31 Oktober 2017

Sri Mulyani - Retno Marsudi, Pebasket dan Pramuka Tantang Pemuda

Reporter: Astari Pinasthika Sarosa
Editor : Rini Kustiani


Kawan Lama, Berbakti Bersama.  Sri Mulyani Indrawati dan Retno Marsudi saat menghadiri Reuni Akbar SMA 3 Semarang, 28-29 Oktober 2017. (Alste Indonesia)
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menghadiri reuni masa sekolah mereka di SMA 3 Semarang, Jawa Tengah. Pada kesempatan itu, dua menteri Kabinet Presiden Joko Widodo ini menceritakan masa ketika mereka masih remaja.

Sri Mulyani mengatakan dia adalah orang yang suka berolahraga dan aktif berorganisasi. Ketika bersekolah di SMA 3 angkatan 1981, Sri Mulyani mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga basket dan karate, serta pernah menjadi ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah atau OSIS. "Saya tidak sering belajar, seringnya olahraga dan berorganisasi," ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani dan Retno Marsudi pernah satu kelas, dan sekarang mereka bekerja di dalam kabinet yang sama. Jika Sri Mulyani memilih kegiatan olahraga dan OSIS, Retno Marsudi sibuk dengan kegiatan Pramuka. "Dia ( Retno Marsudi ) jago persami, berkemah," ucap Sri Mulyani. Baik Sri Mulyani maupun Retno Marsudi mengatakan aktivitas mereka semasa sekolah membantu membangun sikap disiplin dan mengelola kerja tim saat bekerja.

Sri Mulyani dan Retno Marsudi lantas memberikan pesan dan tantangan kepada para pemuda. Sri Mulyani memulai pesannya dengan mengatakan kalau pemuda zaman dulu berjuang agar Indonesia menjadi satu bangsa, satu bahasa, dan satu Tanah Air. Menurut Sri Mulyani, pesan tersebut masih sangat relevan sampai sekarang, dan perlu diperjuangkan.

“Dari sejarah kami melihat bahwa bangsa ini selalu dibentuk oleh para pemudanya. Sekarang kami berdua menantang anak zaman sekarang untuk membawa negara kita menjadi negara yang hebat, maju, dan adil, makmur," ujar Retno Marsudi, menambahkan pesan Sri Mulyani di vlog Youtube Kementerian Keuangan.
 
Sumber : Sri Mulyani - Retno Marsudi, Pebasket dan Pramuka Tantang Pemuda 

Baca juga:

Sri Mulyani Ungkap 3 Kunci Kebugaran Tubuh
Sri Mulyani saat SMA Tak Suka Belajar, Pilih Lari Nyeker
Mengintip Kiat Sukses Sri Mulyani dalam Karier dan Rumah Tangga

Rabu, 06 April 2016

Sepotong Cinta di Majalah Dinding Sekolah


Oleh : Ila Rizky
Blogger | Bookworm | Suka nulis | Tegal
Email : sabilla.arrasyid@gmail.com 


“Basi! Madingnya udah mau terbit!”


Ila Rizky
Kalau inget ucapan si Cinta di AADC itu, saya jadi kangen masa putih biru saya. Haha. Rasanya seneng aja inget masa-masa remaja itu. 

Seneng karena punya temen yang bikin hari-hari jadi bahagia sekaligus juga di masa sekolah itu pertama kali ngrasain suka sama seseorang yang dipendem selama 3 tahun. =)) Itu semua berlanjut hingga suatu hari ada kejadian yang membuat saya nggak bisa menahan diri untuk makin kepo dengan orang yang saya suka itu. Wekeke.

Kalau ngomongin soal majalah dinding atau yang biasa dikenal dengan mading, rasanya nggak akan jauh-jauh dari kisah remaja saya itu. Uhuk, silahkan duduk yang rapi biar saya cerita ya. :P Pada zaman dahulu sebelum negara api menyerang, eh maksudnya pas masih duduk di bangku SMP kelas 3, saya kebagian jatah sama temen untuk ikut dalam lomba majalah dinding antar kelas.
Masalahnya adalah saya sama sekali nggak punya stok naskah. Walau dulu mulai kelas 1 SMP udah sering nulis di surat pembaca Yunior Suara Merdeka, tapi waktu itu cuma nulis-nulis aja. Bukan jenis tulisan majalah dinding yang nano-nano rasanya. Tapi saking penginnya ikutan berpartisipasi dalam lomba ini, saya sampai bela-belain nyalin kaligrafi buat hiasan mading. Hahaha. Beneran niat banget lagi. Sampai mirip ujung-ujungnya. Padahal kalo ditanya bacanya kayak gimana nggak ngerti. :p
Nah si dia yang saya suka itu jago banget ngegambar. Tengsin dong kalo gambar saya nggak rapi. Huahaha. Akhirnya beneran deh niat banget bikin madingnya. Bikin artikel yang ngasal cerita tapi yang penting madingnya lengkap elemennya. Eaa, bener-bener deh. Semua dikerjain bareng tiga teman karena siswa yang lain pada ga mau ngurusin. *hadeh*  Akhirnya kami berempat ngurusin mading. Si dia yang saya suka itu bagian karikaturnya. Karikaturnya keren kok. *nggak ada yang nanya*

Dasarnya saya kepo sama orang itu, sampai mading mau difixkan aja saya nggak berani ketemu sama dia, padahal udah diajakin temen buat ketemu di rumahnya biar urusan majalah dinding ini cepet kelar. Ya gimana lagi, kalo nggak ikutan kelas bakalan kena hukuman sama guru karena nggak ngirim perwakilan buat mengikutsertakan majalah dinding. Ya walau akhirnya nggak menang tapi dari majalah dinding itu saya jadi tahu banyak tentang jenis-jenis tulisan. Ada puisi kayak puisinya si Rangga *eaa, ketahuan deh umur saya berapa* Ngepas banget waktu itu emang lagi booming tentang film AADC. Duh, ternyata nggak berasa udah 14 tahun aja. xD Berasa makin tua *umpetin KTP*

Dari majalah dinding yang bikin saya makin tahu kemana minat dan bakat saya, akhirnya ngerti bahwa nulis itu ya seru. Tapi kalau ada deadline kayak di majalah dinding, entah gimana saya malah ngerasa tertekan meski adrenalin terpacu karena ada orang yang disuka itu. Haha. Anggapan saya waktu itu sih mikirnya ya minimal dia ngerti lah kalo saya keren. *uhuk :p Zaman dulu masih suka sama orang karena smart. Kalau pinter nulis, seni dan jago matematika itu pasti jenius. =)) Nah, cerita berlanjut setelah mading kelar, saya malah mikirnya kok sayang dibuang gitu aja. Akhirnya dicopotin deh tuh mading yang nggak menang. Walau akhirnya disimpen buat sendiri. 

Setelah masuk SMA, jadi udah jarang pegang mading. Karena saya nggak terlalu suka berekspresi dengan nulis yang ala-ala anak mading. Zaman dulu tulisan warna-warni dengan beragam jenis tulisan dari yang hurufnya gendut-gendut sampai dibikin dikluer-kluer. Inget suka sama mading sekadarnya aja, paling nontonin temen yang masang mading di lorong sekolah. 

Trus, saya baca-baca puisinya. Kadang baca karikatur atau cerpen yang dibikin sama temen juga. Cuma makin hari ketika pengurusnya berhalangan akhirnya mading jadi terbengkalai. Sempet sedih juga pas tahu kalau madingnya udah lama nggak diganti yang baru. Haha. Jadi madingnya sampe ngendon di dinding hingga berminggu-minggu. Ditengokin balik eh ya tetep gitu-gitu aja. 

Nah, trus salah siapa? Salah temen-temen gue? =)) Ya nggak lah, gimana pun akhirnya keputusan untuk membuat mading sekolah jadi lebih maju dengan cara dibikin lomba lagi, atau bergantian setiap kelas wajib bikin entah gimana caranya yang penting ada cerita-cerita baru buat dipajang di mading. 

Nah, sekian cerita mading di sekolah saya. 
Kalau kamu? Ada kenangan apa aja di majalah dinding sekolah? ;)


Selasa, 01 Juli 2014

Iwan Pranoto : “Pendidikan harus membuat siswa senang. Siswa harus sampai kasmaran belajar”


Jakarta, Kompas - Pendidikan pada masa depan seharusnya disiapkan dengan semangat menjadikan warga negara pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan diagendakan dengan fokus kesetaraan, kualitas dan pembelajaran.

Prof. Iwan Pranoto, Ph.D.
Pendidikan sepanjang hayat menjadi agenda baru dunia. Agenda baru itu diterapkan setelah target pendidikan untuk semua dalam Tujuan Pembangunan Milenium berakhir 2015.

Guna mencapai tujuan pendidikan sepanjang hayat, dibutuhkan guru-guru profesional dan berkualifikasi. Selain  itu, para guru perlu didukung dengan baik lewat pendidikan, pelatihan, dan perlindungan untuk mencapai target pendidikan sepanjang hayat ini.

Tantangan dunia pendidikan tak sekadar membuat anak-anak usia sekolah berada di sekolah dan belajar, tetapi juga menyediakan kesempatan pendidikan dan pelatihan bagi pemuda dan orang dewasa sepanjang hidup mereka.

Hak  asasi

“Inilah visi kuat dari pendidikan sebagai hak asasi manusia, sama halnya untuk kesetaraan gender, sebagai penggerak untuk mengurangi kemiskinan. Hal ini juga untuk pembangunan berkelanjutan,” kata Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova.

Visi pendidikan dunia setelah 2015 tertuang dalam Perjanjian Muskat untuk menggantikan Pendidikan Untuk Semua. Visi tersebut diharapkan menjadi acuan dalam kebijakan pendidikan di negara-negara yang telah mengadopsi pendidikan untuk semua, termasuk Indonesia.

Kebijakan pendidikan itu meliputi pendidikan dan pengasuhan anak usia dini, pendidikan dasar, literasi pemuda dan orang dewasa, keterampilan untuk bekerja dan hidup, nilai-nilai dan sikap yang menjunjung perdamaian, kewarganegaraan  global, serta pembangunan berkelanjutan.

Pendidikan pada masa depan harus dijamin yang setara dan inklusif berkualitas serta belajar sepanjang hayat. Untuk itu, komitmen politik dan dukungan pendanaan dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencapai tujuan pendidikan itu sangat diperlukan.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Sekolah Rumah dan pendidikan Alternatif (Asahpena) Budi Trikorayanto, mengatakan bahwa pendidikan tidak terbatas di sekolah atau pendidkan formal. Pendidkan informal dan nonformal perlu didukung agar semangat belajar sepanjang hayat tercipta lewat jalur pendidikan mana pun.

“Jadi bukan hanya pendidikan formal yang didukung. Pendidikan informal dan nonformal harus juga dibantu untuk berkembang dengan kualitas yang baik, jangan dihambat atau dipersulit,”kata Budi Trikorayanto, di Jakarta, Senin (30/6/2014).

Minat belajar

GuruBesar Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto mengatakan, pendidikan sepanjang hayat dapat terwujud jika ada rasa senang belajar. Pendidikan di sekolah yang sarat hafalan, berpikir tingkat rendah, dan sulit diaplikasikan dalam kehidupan membuat siswa tidak kreatif dan inovatif.

“Pendidikan harus membuat siswa senang. Siswa harus sampai kasmaran belajar. Dengan demikian, seseorang mampu belajar dengan motivasi dari dalam dirinya, sepanjang hidup,” kata Iwan (ELN).
Sumber : 

“Pembelajaran : Pendidikan Sepanjang Hayat Jadi Agenda,” Kompas, 1 Juli 2014.

Senin, 28 April 2014

SMA Muhammadiyah 1 Surakarta : Ekskul Gress Hasilkan Uang dari Desain dan Foto

Oleh : Ahmad Baihaqi
JIBI/Solopos

Solopos.com, SOLO —Gradasi Ekspresi Siswa (Gress) mewadahi siswa-siswi yang mencintai seni desain dan fotografi di SMA Muhammadiyah 1 Solo. Gress berstatus sebagai salah satu ekstrakurikuler, namun anggotanya bisa menghasilkan uang dari kegiatan mereka.

Selalu ada manfaat yang didapat dari kegiatan ekstrakurikuler. Termasuk ekstrakurikuler desain dan fotografi di SMA Muhammadiyah 1 Solo ini.

Selain mendapat ilmu dan kreativitas, siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ini juga diajarkan berwirausaha. “Kami bangun jiwa wirausaha dan kemandirian, jadi siswa bisa memperoleh uang dari penjualan hasil karya, nanti uangnya akan masuk kas Gress,” ujar pembimbing Gress, Triyanto Wahyu Nugroho, saat ditemui Solopos.com di sekolah, Kamis (17/4/2014).

Triyanto menambahkan karya-karya itu biasanya dijual di event sekolah maupun event lain di Solo. Kreasi Anak Solo (Kreaso) merupakan event yang selalu menjadi tempat berjualan siswa-siswa Gress. Produk yang dijual berupa stiker, pin, bros, kalender duduk, dan mug.

“Karya siswa banyak yang laku di Kreaso, yang penting siswa bisa mengerti bagaimana cara mendesain, mengolah sampai memproduksi sebuah karya,” ujar Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Selain menghasilkan karya-karya desain, jelas dia, siswa juga menghasilkan karya-karya fotografi. Mereka diajari latihan dasar, teknik, sampai hunting foto. Tidak hanya desain yang menghasilkan uang, dari bidang fotografi, siswa Gress juga mampu menambah pundi-pundi kas mereka.

“Kami pernah beberapa kali memenuhi panggilan untuk dokumentasi, biasanya acara pernikahan, ulang tahun, bahkan pernah pre-wedding. Paling seru saat dokumentasi pernikahan guru,” kata seorang anggota Gress, Bakhtiar, saat ditemui Solopos.com, Kamis.

Bakhtiar menambahkan dirinya mengikuti ekstrakurikuler desain dan fotografi ini karena memang sudah hobi memotret sejak awal. 

Dengan bekal kamera yang dimilikinya ia merasa menikmati kegiatan-kegiatan yang diusungnya bersama kawan-kawannya di Gress. “Pernah ikut Solo Carnival juga pernah ikut motret model di Taman Balekambang,” tambah siswa Kelas X IPS 3 itu.

Ekstrakurikuler desain dan fotografi ini berdiri sejak 2009 dan saat ini diikuti 37 siswa. Untuk desain kegiatannya dilakukan setiap Selasa pukul 14.15 WIB-17.00 WIB. Sementara untuk fotografi dilakukan hunting sepekan sekali dengan jadwal menyesuaikan.

Sumber : Ekskul Gress Hasilkan Uang dari Desain dan Foto

Artikel Terkait Yang Menarik :

Eksistensi Ekskul Fotografi: Jangan Hunting Doang, Bung!
Eksplorasi & Kolaborasi Ekskul Fotografi
Michael Theodoric, Fotografer Muda Dunia 
Roro, SMAN 7 Jakarta : Aku pengin ada ekskul fotografi.
SMAN 6 Pontianak Punya Grup Foto Cherrybelle