Selasa, 01 Juli 2014

Iwan Pranoto : “Pendidikan harus membuat siswa senang. Siswa harus sampai kasmaran belajar”


Jakarta, Kompas - Pendidikan pada masa depan seharusnya disiapkan dengan semangat menjadikan warga negara pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan diagendakan dengan fokus kesetaraan, kualitas dan pembelajaran.

Prof. Iwan Pranoto, Ph.D.
Pendidikan sepanjang hayat menjadi agenda baru dunia. Agenda baru itu diterapkan setelah target pendidikan untuk semua dalam Tujuan Pembangunan Milenium berakhir 2015.

Guna mencapai tujuan pendidikan sepanjang hayat, dibutuhkan guru-guru profesional dan berkualifikasi. Selain  itu, para guru perlu didukung dengan baik lewat pendidikan, pelatihan, dan perlindungan untuk mencapai target pendidikan sepanjang hayat ini.

Tantangan dunia pendidikan tak sekadar membuat anak-anak usia sekolah berada di sekolah dan belajar, tetapi juga menyediakan kesempatan pendidikan dan pelatihan bagi pemuda dan orang dewasa sepanjang hidup mereka.

Hak  asasi

“Inilah visi kuat dari pendidikan sebagai hak asasi manusia, sama halnya untuk kesetaraan gender, sebagai penggerak untuk mengurangi kemiskinan. Hal ini juga untuk pembangunan berkelanjutan,” kata Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova.

Visi pendidikan dunia setelah 2015 tertuang dalam Perjanjian Muskat untuk menggantikan Pendidikan Untuk Semua. Visi tersebut diharapkan menjadi acuan dalam kebijakan pendidikan di negara-negara yang telah mengadopsi pendidikan untuk semua, termasuk Indonesia.

Kebijakan pendidikan itu meliputi pendidikan dan pengasuhan anak usia dini, pendidikan dasar, literasi pemuda dan orang dewasa, keterampilan untuk bekerja dan hidup, nilai-nilai dan sikap yang menjunjung perdamaian, kewarganegaraan  global, serta pembangunan berkelanjutan.

Pendidikan pada masa depan harus dijamin yang setara dan inklusif berkualitas serta belajar sepanjang hayat. Untuk itu, komitmen politik dan dukungan pendanaan dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencapai tujuan pendidikan itu sangat diperlukan.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Sekolah Rumah dan pendidikan Alternatif (Asahpena) Budi Trikorayanto, mengatakan bahwa pendidikan tidak terbatas di sekolah atau pendidkan formal. Pendidkan informal dan nonformal perlu didukung agar semangat belajar sepanjang hayat tercipta lewat jalur pendidikan mana pun.

“Jadi bukan hanya pendidikan formal yang didukung. Pendidikan informal dan nonformal harus juga dibantu untuk berkembang dengan kualitas yang baik, jangan dihambat atau dipersulit,”kata Budi Trikorayanto, di Jakarta, Senin (30/6/2014).

Minat belajar

GuruBesar Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto mengatakan, pendidikan sepanjang hayat dapat terwujud jika ada rasa senang belajar. Pendidikan di sekolah yang sarat hafalan, berpikir tingkat rendah, dan sulit diaplikasikan dalam kehidupan membuat siswa tidak kreatif dan inovatif.

“Pendidikan harus membuat siswa senang. Siswa harus sampai kasmaran belajar. Dengan demikian, seseorang mampu belajar dengan motivasi dari dalam dirinya, sepanjang hidup,” kata Iwan (ELN).
Sumber : 

“Pembelajaran : Pendidikan Sepanjang Hayat Jadi Agenda,” Kompas, 1 Juli 2014.

Senin, 28 April 2014

SMA Muhammadiyah 1 Surakarta : Ekskul Gress Hasilkan Uang dari Desain dan Foto

Oleh : Ahmad Baihaqi
JIBI/Solopos

Solopos.com, SOLO —Gradasi Ekspresi Siswa (Gress) mewadahi siswa-siswi yang mencintai seni desain dan fotografi di SMA Muhammadiyah 1 Solo. Gress berstatus sebagai salah satu ekstrakurikuler, namun anggotanya bisa menghasilkan uang dari kegiatan mereka.

Selalu ada manfaat yang didapat dari kegiatan ekstrakurikuler. Termasuk ekstrakurikuler desain dan fotografi di SMA Muhammadiyah 1 Solo ini.

Selain mendapat ilmu dan kreativitas, siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ini juga diajarkan berwirausaha. “Kami bangun jiwa wirausaha dan kemandirian, jadi siswa bisa memperoleh uang dari penjualan hasil karya, nanti uangnya akan masuk kas Gress,” ujar pembimbing Gress, Triyanto Wahyu Nugroho, saat ditemui Solopos.com di sekolah, Kamis (17/4/2014).

Triyanto menambahkan karya-karya itu biasanya dijual di event sekolah maupun event lain di Solo. Kreasi Anak Solo (Kreaso) merupakan event yang selalu menjadi tempat berjualan siswa-siswa Gress. Produk yang dijual berupa stiker, pin, bros, kalender duduk, dan mug.

“Karya siswa banyak yang laku di Kreaso, yang penting siswa bisa mengerti bagaimana cara mendesain, mengolah sampai memproduksi sebuah karya,” ujar Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Selain menghasilkan karya-karya desain, jelas dia, siswa juga menghasilkan karya-karya fotografi. Mereka diajari latihan dasar, teknik, sampai hunting foto. Tidak hanya desain yang menghasilkan uang, dari bidang fotografi, siswa Gress juga mampu menambah pundi-pundi kas mereka.

“Kami pernah beberapa kali memenuhi panggilan untuk dokumentasi, biasanya acara pernikahan, ulang tahun, bahkan pernah pre-wedding. Paling seru saat dokumentasi pernikahan guru,” kata seorang anggota Gress, Bakhtiar, saat ditemui Solopos.com, Kamis.

Bakhtiar menambahkan dirinya mengikuti ekstrakurikuler desain dan fotografi ini karena memang sudah hobi memotret sejak awal. 

Dengan bekal kamera yang dimilikinya ia merasa menikmati kegiatan-kegiatan yang diusungnya bersama kawan-kawannya di Gress. “Pernah ikut Solo Carnival juga pernah ikut motret model di Taman Balekambang,” tambah siswa Kelas X IPS 3 itu.

Ekstrakurikuler desain dan fotografi ini berdiri sejak 2009 dan saat ini diikuti 37 siswa. Untuk desain kegiatannya dilakukan setiap Selasa pukul 14.15 WIB-17.00 WIB. Sementara untuk fotografi dilakukan hunting sepekan sekali dengan jadwal menyesuaikan.

Sumber : Ekskul Gress Hasilkan Uang dari Desain dan Foto

Artikel Terkait Yang Menarik :

Eksistensi Ekskul Fotografi: Jangan Hunting Doang, Bung!
Eksplorasi & Kolaborasi Ekskul Fotografi
Michael Theodoric, Fotografer Muda Dunia 
Roro, SMAN 7 Jakarta : Aku pengin ada ekskul fotografi.
SMAN 6 Pontianak Punya Grup Foto Cherrybelle

Sabtu, 10 April 2010

Merangsang Aktivitas Baca-Tulis Siswa melalui Mading Sekolah


Oleh : Sabjan Badio & Siska Yuniati

Majalah dinding atau mading merupakan media komunikasi yang telah dikenal lama oleh masyarakat. Mading tidak hanya dibuat oleh siswa di sekolah, namun juga diciptakan dan dikonsumsi oleh masyarakat umum.

Saat mendengar kata mading, sesuai kepanjangannya, majalah dinding, tentu saja yang terbayang dalam benak kita adalah majalah yang terpasang di dinding. Anggapan itu tidak keliru karena prinsip dasar yang ada pada mading layaknya pada majalah. Penyajiannya menggunakan media papan (tripleks, karton, gabus, atau bahan lain) yang dipampang pada dinding. 

Rubrik-rubrik mading sama dengan rubrik-rubrik majalah. Tata letak mading juga tidak jauh berbeda dengan majalah pada umumnya, hanya saja dalam mading lebih sederhana, semua rubrik ditempatkan pada satu halaman atau muka saja.


















Materi mading itu sendiri, menyesuaikan tempat mading itu berada. Mading yang ditempatkan di sekolah tingkat SMP/MTs dan SMU/MA berisi tulisan-tulisan yang disesuaikan dengan karakter sekolah-sekolah tersebut. Selain tulisan, mading juga dilengkapi gambar, misal karikatur atau gambar lain. Hanya saja, untuk tingkat tersebut tulisan tetap lebih dominan. Sementara itu, pada jenjang pendidikan yang lebih rendah, seperti SD dan TK, gambar lebih dominan daripada tulisan.

Ragam Tulisan Mading
Rubrik mading sekolah dapat beragam sesuai kreativitas pengelola dan kebutuhan pembaca atau warga sebuah sekolah. Rubrik yang dihadirkan untuk sekolah menengah (SMP-SMA dan MTs-MA) didominasi oleh tulisan jurnalisme, opini, dan sastra. Sisahnya adalah jatah rubrik yang berhubungan dengan kreativitas seni, misalnya fotografi dan album foto, komik pendek, karikatur, lukisan, ilustrasi, dan sebagainya.

Nursisto (2003: 29-38) mengungkapkan, tulisan yang lazim muncul dalam mading adalah spot news, feature, dan reportase. Reportase sebenarnya hanyalah proses dalam pengumpulan data. Jadi, pengelompokan tulisan yang mungkin dilakukan di mading adalah news, feature, opini, dan sastra. News adalah tulisan yang disajikan secara langsung dan apa adanya yang biasanya menjadi andalan surat kabar harian. 

News dibangun dengan sistem 5W + 1H (what, who, where, when, why, dan how). What mengupas apa yang terjadi, who berkenaan dengan pelaku peristiwa, where memuat tempat terjadi peristiwa yang diberitakan, when bersinggungan dengan waktu terjadi peristiwa, why menjawab masalah sebab terjadi peristiwa, dan how menghadirkan informasi tentang bagaimana kejadiannya. Pada majalah dinding, news biasanya hanya berupa tulisan pendek, bahkan kadangkala hanya ditampilkan dalam bentuk berita foto yang disertai caption (tulisan di bawah foto atau gambar yang berfungi sebagai keterangan).

Tulisan feature bisa dikatakan lebih ringan daripada berita (dan artikel opini). Namun, bukan berarti feature bisa dianggap enteng. Ciri khas feature adalah bagaimana penulis berkreativitas (dalam menulis), menyajikan tulisan yang informatif (isinya), dan menghibur (cara penyajian, bahasa, dan penuturannya). Tulisan jenis ini terbagi menjadi news feature, science feature, dan human interest feature. News feature muncul bersamaan dengan terjadinya peristiwa (tepatnya beberapa saat setelah peristiwa terjadi). 

Berita disajikan dengan disertai proses terjadinya. Science feature ditandai dengan kedalaman pembahasan dan objektivitas pandangan yang dikemukakan. Sementara itu, human interest feature adalah feature yang lebih banyak menuturkan situasi yang menimpa seesorang dengan cara penyajian yang menyentuh hati dan menyentil perasaan (Suroso, 2001: 94).

Baik news maupun feature, harus ditulis berdasarkan proses reportase. Proses reportase dilakukan melalui observasi, interview (wawancara), hingga riset (penelitian atau pengamatan intensif dan cermat baik secara langsung maupun dengan studi pustaka).

Jenis tulisan yang juga menjadi favorit mading dan surat kabar pada umumnya adalah artikel opini. Menurut Suroso (2001), artikel opini merupakan tulisan yang berisi gagasan, ulasan, atau kritik terhadap suatu persoalan yang ada dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yang ditulis dengan bahasa ilmiah populer. Atikel opini ini terbagi menjadi pengetahuan populer, penuntun praktis (guidance), politik, olahraga, dan kebudayaan. Data untuk penulisan artikel ini dapat diperoleh melalui wawancara, penelitian atau penyelidikan langsung, dan bahan cetakan.

Terdapat perbedaan mendasar antara tulisan feature (dan news) dengan artikel opini. Suroso (2001: 96-97) mengungkap bahwa artikel opini membuat orang berpikir dan isinya menyangkut analisis, pendapat, saran, yang penuh muatan sebab-musabab. Tulisan opini didorong oleh alasan-alasan ilmiah yang mengandung resiko polemik, baik yang bersifat mendukung maupun membantah. Hal ini berbeda dengan feature, feature lebih bersifat rileks, berpengaruh pada perasaan pembaca, membuat pembaca menjadi senang, terharu, bersemangat, bahkan menangis. Walaupun begitu, setiap media mempunyai gaya sendiri dalam menyampaikan tulisan-tulisannya.

Kemudian, jenis keempat yang kerap menghiasi wajah mading adalah jenis tulisan sastra, yaitu cerbung, cerpen, dan puisi. Namun, lazimnya, yang terpublikasi hanyalah cerpen dan puisi, sementara cerbung jarang ditampilkan berkenaan sulitnya mendapatkan tulisan yang bermutu dan layak untuk diterbitkan di mading.

Untuk menghadirkan semua jenis tulisan tersebut pengelola (redaktur tiap-tiap rubrik) harus memberitahukannya secara luas pada semua warga sekolah, misalnya melalui pemberitaan pada edisi sebelumnya, pada majalah-majalah biasanya tertulis: Tema Edisi Depan (Berikutnya). Melalui pemberitaan tersebut, para siswa, karyawan, dan guru memiliki informasi yang jelas dan waktu cukup untuk menulis sesuai minatnya. 

Dalam pengumpulan tulisan tersebut, pengelola harus membatasi waktu penyerahan tulisan dengan menyisahkan waktu untuk proses penenerbitan, mulai penyeleksian, editing atau penyuntingan, hingga layout atau perwajahan. Untuk itu, para redaktur harus memilih naskah terbaik secara objektif.

Manfaat Mading
Banyak manfaat yang diperoleh dari mading. Mading dapat dijadikan media komunikasi. Tulisan pada mading merupakan bentuk komunikasi antarpihak tertentu. Tulisan tersebut menghadirkan informasi atau peristiwa yang terjadi dalam lingkup tertentu pula. Sebagai contoh, mading di sekolah, tentu akan menuliskan berita berkenaan dengan kegiatan atau info sekolah, hal yang tidak akan didapatkan dari koran atau majalah pada umumnya. Pembaca mading yang merasa berkepentingan dengan berita tersebut barangkali tidak hanya sekadar membaca, namun juga merespons atau menanggapinya. Di sinilah akan terjadi komunikasi antara redaksi mading dengan pembaca, antara pembaca dengan pembaca lain.

Mading juga dapat dijadikan wadah untuk menampung kreativitas. Mading tidak hanya menampilkan tulisan dalam rubriknya, namun juga kreasi seni visual dan kerajinan. Kreativitas seni tidak hanya mengusung keindahan, akan tetapi juga mempertimbangkan segi ekonomis dan pemanfaatan benda-benda di sekitar. Demikian pula dengan tulisan dalam setiap rubriknya. Redaktur harus jeli memilih berita yang ada di lingkungannya kemudian mengolahnya menjadi berita yang menarik.

Dari mading, redaktur dan pembaca akan banyak belajar. Redaktur mading dalam mempersiapkan lahirnya mading dalam setiap edisinya tentu membutuhkan pengetahuan atau informasi yang tidak sedikit. Tentunya secara tidak langsung siswa ditugasi menulis salah satu tulisan akan banyak membaca. Bagaimana pun juga keterampilan menulis harus dibekali dengan pengetahuan yang luas. Sementara pembaca mading selain mendapatkan informasi dari mading, ia akan termotivasi untuk menggali pengetahuan lebih lanjut. Tulisan dalam mading sifatnya ringkas karena terbatas luasnya media. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut pembaca dapat mencarinya melalui media lain (surat kabar, internet, dsb).

Siswa atau orang-orang yang tergabung dalam redaksi mading akan belajar berorganisasi. Mereka belajar mengurus suatu penerbitan. Dalam menghadirkan sebuah mading perlu proses panjang, mulai dari pengumpulan bahan, penyuntingan hingga penyelesaian. Setiap redaktur mau tidak mau belajar bertanggung jawab menyelesaikan tugas yang diembannya. Tujuannya tidak lain agar mading selesai tepat waktu. Keterlambatan terbitnya mading akan berpengaruh terhadap isi berita yang ditulis. Berita sudah tidak aktual atau basi sehingga kehadiran mading berkurang fungsinya.

Mading dan Aktivitas Baca-Tulis
Dalam belajar bahasa Indonesia ada empat keterampilan yang harus dikuasai siswa. Keempat keterampilan tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kalau dipasangkan, maka menyimak atau mendengarkan akan berpasangan dengan berbicara, sedangkan membaca berpasangan dengan menulis. Pasangan keterampilan berbahasa tersebut saling mempengaruhi. Aktivitas berbicara dibarengi aktivitas menyimak. Keberhasilan menyimak akan berpengaruh terhadap keterampilan berbicara. Demikian pula dengan keterampilan menulis, keterampilan ini sangat erat hubungannya dengan keterampilan membaca. Menulis merupakan bentuk penuangan ide dari hasil membaca. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula informasi yang dapat disampaikan melalui tulisan.

Kurikulum KTSP mata pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTs untuk keterampilan membaca dan menulis menuntut siswa untuk dapat menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata per menit, menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca, membedakan antara fakta dan opini, menganalisis nilai-nilai kehidupan dalam cerpen, menulis kreatif puisi, mengubah teks wawancara menjadi narasi, menulis laporan dengan bahasa yang baik dan benar, menyunting karangan, menulis cerpen, serta menulis surat pembaca. Kompetensi dasar yang disyaratkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di atas tidak akan berhasil kalau hanya disampaikan selama 2 x 40 menit di dalam kelas. Materi-materi tersebut sebaiknya dipraktikkan dan terus dilatih agar menjadi keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupan anak didik.

Keberadaan mading sangat dekat dengan aktivitas baca-tulis. Sebelum diterbitkan, redaktur akan mengumpulkan naskah atau tulisan. Tulisan dapat berasal dari redakur sendiri maupun kontribusi pembaca. Dalam proses penyaringan naskah tersebut diharapkan ada kompetisi untuk menjadi yang terbaik hingga dipilih oleh redaktur rubrik untuk dimuat. Dalam proses kompetisi tersebut ada proses pembacaan dan pembelajaran menulis.

Para kontributor sebelum mengirimkan naskah setidaknya telah melalui tahapan-tahapan menulis. Tahapan-tahapan tersebut mengumpulkan bahan, menulis artikel, melakukan perbaikan (revising), menyunting (editing), pembacaan percobaan (proof reading), serta memublikasikan (mengirimkan tulisan). Dalam menyunting tulisan, hal yang harus diperhatikan adalah tanda baca, huruf kapital, ejaan, tata bahasa, dan keefektifan kalimat. 

Pada tahap pembacaan percobaan (proof reading) yang harus dilakukan adalah melakukan pembacaan percobaan, ini sebaiknya dilakukan oleh pihak lain yang tidak ikut menulis naskah tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah cara penyajian dapat diterima dan enak dibaca oleh pembaca, serta apakah materi-materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik (Yuniati, 2008: 39). Dalam pengiriman naskah, kontributor harus jeli mengamati materi rubrik yang akan dibidiknya. Para kontributor dapat belajar dari edisi-edisi sebelumnya. Hal ini dilakukan agar tulisan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan mading sehingga berpeluang untuk dimuat.

Kehadiran mading juga diharapkan mampu memotivasi siswa untuk membaca dan menulis. Asumsinya, siswa akan aktif membaca tulisan yang ada di mading karena yang menulis adalah temannya sendiri atau orang yang dikenal. Hal ini juga akan memberi dorongan siswa untuk menulis seperti yang telah dilakukan temannya. Selain itu, siswa lebih berani untuk mengirimkan tulisannya karena seleksi naskah tidak seketat surat kabar atau majalah yang dikonsumsi masyarakat luas.

Latihan menulis, mau tidak mau akan menguras energi yang tidak sedikit. Wajar saja karena disinyalir bahwa penentu keberhasilan dalam menulis adalah kerja keras. Bahkan, porsinya mencapai 90%. Kerja keras di sini dimaksudkan sebagai aktivitas latihan, ketekunan, dan keinginan untuk meningkatkan kualitas diri dengan selalu belajar. Belajar dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan non-formal seperti rutinitas membaca dan menulis.

Akhirnya, bagaimana pun juga aktivitas permadingan dan baca-tulis tidak terlepas dari peran aktif guru. Peran aktif para pendidik tersebut sangat diharapkan berupa motivasi dan teladan dalam membaca dan menulis. Jika para guru tidak mampu memberikan motivasi dan keteladan, berbagai upaya yang dilakukan tidak akan banyak berhasil. Hal yang paling krusial tentu adalah keteladanan, bagaimana para guru meneladankan rutinitas membaca dan kebiasaan menulis pada para siswa akan menentukan perkembangan baca-tulis siswa kemudian hari.

Aktivitas permadingan ini tentu perlu rangsangan lebih dengan mengadakan kegiatan-kegiatan perlombaan, baik tingkat sekolah maupun tingkatan yang lebih luas. Pada peristiwa seperti ini, para siswa dapat mengukur (untuk kemudian meningkatkan) kemampuannya dalam menulis dan mengelola mading. Pada lingkup internal mading sendiri, mungkin dapat dilakukan pemilihan artikel terbaik sepanjang tahun, foto terbaik, dan sebagainya.

Referensi 

Nursisto. 1999. Membina Majalah Dinding. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. 
Suroso. 2001. Menuju Pers Demokrasi. Yogyakarta: Lembaga Studi dan Inovasi Pendidikan. 
Yuniati, Siska. 2008. Menulis Resensi Buku. Yogyakarta: MTs Negeri Giriloyo.



Sumber :

https://mediaksara.wordpress.com/2010/04/04/merangsang-aktivitas-baca-tulis-melalui-mading-sekolah/ 

Biodata penulis :

Sabjan Badio adalah seorang penulis, editor, dan blogger. Beberapa karyanya mendapatkan penghargaan pada tingkat lokal dan nasional serta digunakan sebagai referensi di dalam dan luar negeri. Selain menulis, Sabjan Badio juga mengajar di sekolah dan perguruan tinggi.

Sabjan merupakan sosok yang terlibat dalam penyusunan media audio untuk tunanetra di Indonesia terkait Gerakan Literasi Sekolah yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Selain itu, Sabjan juga tercatat sebagai salah seorang penyusun kurikulum sekolah menengah kejuruan di Indonesia.

Tautan lanjut : https://id.wikipedia.org/wiki/Sabjan_Badio

Siska Yuniati adalah seorang penulis, penyunting,blogger berprestasi,guru bahasa, dan aparatur sipil di Kementerian Agama Republik Indonesia. Kelahiran Bantul, 26 Juni 1980. Dunia menulis mulai digelutinya sejak bangku sekolah di mana ketika itu dia menjadi ghost writer atau penulis bayangan untuk sebuah lomba menulis puisi. Aktivitas menulis ini terus ditekuninya ketika menapaki jenjang pendidikan tinggi di Universitas Negeri Yogyakarta.

Di universitas tersebut, Siska Yuniati mulai melirik media massa nasional. "Mesin Jahit Ibuku" (2004) adalah sebuah tulisan yang diterbitkannya di majalah wanita Ummi yang sekaligus menjadi pelecut baginya untuk terus menulis.

Dalam perjalanan karier menulisnya, Siska Yuniati menyadari pentingnya latihan menulis. Sebagai sebuah keterampilan, kemampuan menulis harus selalu diasah dan dikembangkan.Di antara tips untuk meningkatkan kemampuan menulis adalah dengan membiasakan diri menulis buku harian. Pandangannya tentang hal ini beberapa kali dikemukakan dalam artikel yang ditulisnya untuk media massa. Selain pembiasaan, hal lain yang menurut Siska penting dilakukan adalah riset. Sebuah riset berperan penting dan menentukan kualitas sebuah karya kreatif.

Tautan lanjut : https://id.wikipedia.org/wiki/Siska_Yuniati